Oleh : Drs. Mulyono, MA *)
“Dan setiap umat mempunyai kiblat yang dia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah kamu dalam kebaikan. Dimana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu semuanya. Sungguh Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu” [QS Al-Baqarah (02) ayat 148]
Ka’bah sebagai pusat ‘arah ibadah’ dan symbol penyatuan umat yang melambangkan tujuan manusia supaya tidak tersesat menghadapi kehidupan. Menurut Ibnu al-Qayyim bahwa Ka’bah sebagai kiblat kehidupan, tatkala seorang hamba menghadap kerpada Allah secara totalitas
Kiblat adalah ‘arah fisik’ menghadap Ka’bah di Mekkah pada saat salat dan secara metaforis, kiblat melambangkan focus arah hati dan pikiran seorang muslim. Arah kiblat adalah symbol kepatuhan manusia kepada perintah-Nya, meniti jalan ‘lurus ke arah yang benar’, konsisten dan tidak berbelok-belok serta tidak salah arah.
Ka’bah dan Kiblat symbol sentral yang menentukan arah, tujuan dan kesatuan hidup umat Muslim. Ka’bah sebagai ‘deklarasi tauhid’ yang menandakan penyembahan kepada Allah swt. Kiblat sebagai pusat tujuan hidup seorang muslim adalah Allah swt. Kalibrasi arah kiblat untuk memastikan langkah agar tidak kehilangan arah. Kiblat sebagai ‘pengukuhan’ identitas kemusliman dan keimanan agar ‘tegak lurus’, konsisten dalam keistiqamahan dan ketaatan kepada-Nya.
Ka’bah sebagai ‘pusat spiritual’ bukan hanya soal arah geografis, tetapi ia adalah ‘kompas hati’ agar tidak mudah condong ke segala penjuru, tidak gampang terkecoh oleh dunia yang menjanjikan, pujian yang memabukkan dan tidak tergoda dengan kenikmatan yang ‘memudarkan’ kesadaran.
Kiblat adalah arah yang menjadi ‘penentu’ kemana langkah hidup ini akan bermuara. Kiblat bukan seedar arah solat, tetapi orientrasi hidup yang memberikan arah dan menuntun langkah agar jangan sampai tergelincir. Manusia seringkali memuja jabatan, menuhankan kedudukan dan mensakralkan kekuasaan.
Dengan melakukan ‘kalibrasi arah kiblat kehidupan’, secara valid, supaya tidak terseret oleh pusaran kasus yang menggiring kepada jurang kebinasaan dan kehancuran. Apabila arah kiblat hidup tidak di ‘review’ dengan seksama, maka manusia akan kehilangan makna dan hampa serta kehilangan arah, sehingga ‘tidak tahu bagaimana menjalani dan menghadapi kehidupan’
*) Penulis adalah Kepala KUA Kecamatan Tlanakan