Oleh : Drs. Mulyono, MA *)
“Dan kewajiban manusia terhadap Allah adalah melaksanakan haji ke baitullah yaitu bagi orang yang mampu mengadakan perjalanan kesana. Barang siapa mengingkari [kewajiban] haji, maka ketahuilah bahwa Allah Maha Kaya dari seluruh alam” [QS. Ali-Imran (03): 97];
Murtadha al-Zabidi dalam kitabnya “Taj al-‘Arus min Jawahir al-Qamus” menyebutkan bahwa secara etimologis kata “al-Hajj” bermakna “menuju”, “mengunjungi”, “tujuan” dan “menyengaja”. Secara syari’at, “hajj” ialah “menuju ke baitullah dan tempat-tempat tertentu”. Didalamnya terdapat manasik haji, diantaranya tawaf mengelilingi Ka’bah, Sa’i antara Safa dan Marwah, mabit di Mina, wukuf di Arofah, mabit di Muzdalifah, melontar jumroh di Mina dan tawaf wada’.
Kegembiraan calon jamaah haji dapat berangkat menuju Mekkah Al-Mukarramah dan Madinah Al-Munawwarah, membayangkan Ka’bah, tempat-tempat istijabah dan situs-situs bersejarah, untuk menapaktlasi “perjalanan dan perjuangan” Nabi Ibrahim dan Ismail as ketika membangun baitullah yang sampai saat ini “ramai” dikunjungi jutaan umat Islam sedunia.
Motivasi yang menginspirasi calon jamaah haji untuk berziarah ke tanah suci, untuk mencari gelar terpuji yakni “haji mabrur” sebagaimana disebutkan hadits Rasulullah saw, “Tidak ada balasan [yang pantas diberikan] bagi haji mabrur melainkan surga” [HR Bukhari : 1683 Muslim : 1349]. Untuk mencari gelar Haji Mabrur, hindari pekerjaan keji dan tinggalkan perbuatan tidak terpuji.
Imam Nawawi menjelaskan, bahwa “haji mabrur” adalah haji yang tidak dikotori oleh dosa, maksiat dan tidak ada kesombongan. Menurut Jalaludin al-Suyutyhi dalam kitab Syarh al-Suyuthi li Sunan al-Nasa’iy, salah satu bukti seorang meraih gelar haji mabrur, adalah ketika kembali menjadi lebih baik dari sebelumnya, semakin taat beribadah, dermawan, suka menolong, tidak mempersulit orang dan tidak takabur.
Menuju baitullah, semata-mata karena “lillah” menggapai ridlo-Nya bukan karena “status” untuk “dikultus”, tapi berhaji semata-mata karena taat, tunduk dan ikhlas kepada-Nya. Selamat jalan “dlyuyufur rahman” menuju “baitullah” dan kembali ke tanah air meraih gelar terpuji “haji mabrur”, hindari laku keji dan hiasi diri dengan perbuatan mulia agar hajinya tidak sia-sia!!!
*) Penulis adalah Kepala KUA Tlanakan